
dalam sendunya malam, kembali merenungi hari
sembari meresapi gemerisik candaan angin dan dedaunan
bulan, engkau sendiri,
aku tahu, lirihnya
namun engkau bercahaya dan dikagumi,
karena matahari, ujarnya
sepi ?
tidak !aku cukup ditemani angin kelabu
jenuh ?
tidak !dedaunan itu menghiburku
gelap ?
sekali lagi, tidak !harapan ini lebih dari cukup tuk jadi penerangku
lalu ?
aku sendiri, karena memang harus begini
aku terkesan sendu, karena ingin meresapi
aku, dan kelabu menemaniku
.
.
.
aku akan tersenyum dan bersinar
aku yakin matahari itu ada
walau tak hanya untukku, tapi ia ada
dan aku kan jadi bulan yang setia
menanti, menerangi, menentramkan malam
karena matahari
.
.kenapa berharap padanya ?
pada matahari yang hanya angkuh membakar ?
pada matahari yang ada untuk semua ?
pada matahari yang tak mungkin berpaling padamu ?
.karena . . .
ia selalu apa adanya,
. maaf, aku tak mampu melanjutkan jawabnya
karena aku tahu, engkau suatu saat akan mengerti
mungkin aku yang akan menjelaskan,
atau mungkin waktu, kan sanggup berbicara
untukku, kepadamu .